Rumah Baru Yayasan Peduli Muslim Nias

Relocate: Yayasan Peduli Muslim Nias

Terhitung sejak 10 September 2007, weblog YPMN telah kami pindahkan ke www.muslim-nias.org. Weblog yang baru ini menggunakan engine Wordpress.org dengan beberapa alasan dan pertimbangan teknis, spt: kecepatan akses, keamanan, kemudahan, dsb.

Alamat lama kami: peduli.muslim-nias.org maupun muslim-nias.blogspot.com tetap eksis, namun secara otomatis akan diarahkan ke halaman baru kami. Jika Anda sedang membaca postingan ini, maka kemungkinan besar browser anda tidak mendukung java script atau option java scipt sedang dimatikan. Untuk itu silahkan klik link di bawah ini

Masuk/ Enter >>> Yayasan Peduli Muslim Nias

Maaf, browser anda tidak mendukung Java Script. Anda harus mengklik link diatas untuk membuka halam web terbaru kami.
Sorry, your browser does not support Java Script. You Have to click the link above to open our new web page.

Monday, August 27, 2007

ZIS Feb s/d Jul 2007

Daftar Penerimaan ZIS selama bln Februari s/d Juni 2007

Saldo s/d Jan 2007: Rp.60.605.000


01/Feb- Kus Armawati: .......................Rp.1.500.000
04/Feb- Hamba Allah:..........................Rp.1.500.000
06/Feb- Hamba Allah: ......................Rp.100.000
09/Feb- Nurul LM..................................Rp.1.000.000
05/Mar- Hendar:.................................Rp.100.000
06/Mar- Hamba Allah:........................Rp.100.000
09/Mar- Hamba Allah:......................Rp.50.000
11/Mar- Hamba Allah:..........................Rp.250.000
13/Mar- Tuti Indriati:...........................Rp.200.000
14/Mar- Hamba Allah: ............................Rp.1.000.000

21/Mar- Hamba Allah: ......................Rp.50.000
21/Mar- Hamba Allah:..........................Rp.300.000
27/Mar- Hamba Allah: ......................Rp.70.000
28/Mar- Hamba Allah: ......................Rp.50.000
28/Mar- Hamba Allah: ......................Rp.50.000
09/Mei- Hendar: ...............................Rp.50.000
21/Mei- Hj Pudji Rahayu:....................Rp.500.000
23/Mei- Jamaah Az-Zikra:.........................Rp.20.000.000
25/Mei- Benly Abimanyu:..................Rp.50.000
28/Mei- Hamba Allah:...........................Rp.300,000
28/Mei- Hamba Allah:...........................Rp.100,000
29/Mei- Hamba Allah:.........................Rp.50,000
04/Juni- Pok Arisan Nusa Loka BSD: Rp.150,000
07/Juni- Dewi di Depok: ......................Rp.400,000
13/Juni- Kel Amran Harun: .....................Rp.1,000,000
13/Juni- Andi Wahyu Hartono:.............Rp.200,000
26/Juni- Anggoro Setobawono:.............Rp.100,000
26/Juni- Benly Abimanyu: ..................Rp.50,000
26/Juni- Fardan Parjaman: ..................Rp.500,000
29/Juni- Idham Mustafa: ......................Rp.200,000

Total s/d Juni 2007:
Rp. 90.575.000

Read More...

Monday, August 20, 2007

Dua Gempa Guncang Gunungsitoli

ANTARA News, 19/08/07 23:23

Bandarlampung (ANTARA News) - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) melaporkan adanya dua kali gempa bumi terjadi di sekitar wilayah Gunungsitoli di Sumatera Utara pada Minggu (19/8) malam, hanya berselisih beberapa puluh menit saja.


Menurut BMG, gempa bumi yang pertama dengan kekuatan 5,6 pada Skala Richter (SR) terjadi di 27 Km barat daya Gunungsitoli di Sumatera Utara (Sumut), berlangsung pada pkl. 20.12.41 WB, dengan lokasi 1.13 Lintang Utara (LU)-97.41 Bujur Timur (BT). Kedalaman pusat (episentrum) gempa 10 Km.

BMG melalui Kepala Stasiun Geofisika di Kotabumi, Lampung, Chrismanto, menyebutkan pula adanya gempa bumi selanjutnya dengan kekuatan 5,2 SR, pkl. 20.34.29 WIB.

Lokasi gempa kedua ini, 1.16 Lintang Utara (LU)-97.67 Bujur Timur (BT), 16 Km tenggara Gunungsitoli-Sumut, dengan kedalaman 33 Km.

BMG melaporkan dalam sepekan terakhir di wilayah Sumatera dan Pulau Jawa telah terjadi beberapa kali gempa bumi, dengan kisaran kekuatan antara 4-5 SR hingga mendekati 6 SR.

Namun tidak diperoleh laporan adanya dampak kerusakan maupun korban jiwa dari gempa yang umumnya berpusat di kedalaman laut dan jauh di perut bumi itu.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

Read More...

Friday, August 17, 2007

Islam Membangun Kesatuan Bangsa", Refleksi 62 tahun Indonesia Merdeka

Dalam rangka memperingati 62 tahun kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2007 ini kami menyajikan saduran artikel yang kami peroleh dari sebuah milist berjudul "Islam Membangun Kesatuan Bangsa" Oleh Irfan Anshory.
Semoga membangkitkan kembali gelora kesadaran kita dalam berbangsa dan bernegara.
MERDEKA...!!!


DALAM Alquran Surat Ibrahim ayat 34, Allah SWT berfirman: wa in ta'udduu ni'mata lLaahi laa tuhshuuhaa ("Dan jika seandainya engkau hendak menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya tidaklah engkau mampu menghinggakannya").

Di antara nikmat Allah yang tak terhingga banyaknya itu, nikmat yang paling besar bagi kita bangsa Indonesia adalah masuknya agama Islam ke tanah air kita beberapa abad yang silam.

Islam menyebar tidak melalui kekerasan, melainkan secara damai, disebarkan oleh para pedagang, dan para ulama yang tidak tercatat dalam buku sejarah. Islam membawa gelombang modernisasi ke dalam masyarakat kita, yang saat itu masih terkungkung dalam kepercayaan animisme dan politeisme, serta terhambat oleh stagnasi feodalisme dengan struktur kasta-kasta yang diskriminatif.

Dengan bangga kita katakan bahwa ajaran Islamlah yang mula-mula menanamkan rasa kesatuan kebangsaan yang ada sekarang. Islamlah yang pertama kali mempersatukan suku-suku bangsa yang berserak tersebar di seluruh Nusantara, 500 tahun sebelum dikumandangkannya Sumpah Pemuda tahun 1928.

Berkali-kali sejarah menunjukkan bahwa orang Islam dari suatu daerah dapat menjadi orang besar di daerah lain, meskipun pada masa itu paham "nasionalisme Indonesia" belum dikenal. Hal ini karena ajaran Islam menekankan bahwa kehidupan adalah iman dan amal saleh yang didasari takwa kepada Allah. Kepada orang tidaklah dipersoalkan apa bangsa dan sukunya, yang diperhatikan lebih dahulu adalah amal baktinya.

Kerajaan Islam yang pertama di Jawa adalah Kesultanan Demak. Di zaman Sultan Trenggono, datanglah seorang ulama dan ahli perang dari Aceh. Itulah Fatahillah, yang diangkat menjadi panglima perang Demak, menggempur armada Portugis di Sunda Kalapa, lalu mendirikan Kota Jakarta. Ini baru satu contoh bahwa benih-benih persatuan bangsa telah ditanamkan Islam sejak abad ke-16! Tidak usah heran jika Ki Geding Suro, bangsawan Demak yang pergi ke Palembang, diterima dan diangkat menjadi
raja pertama dari Kesultanan Palembang.

Pati Unus (sebutan Portugis untuk Adipati Yunus) dari Demak, mengirimkan angkatan lautnya untuk mengusir Portugis yang telah menaklukkan Malaka. Sayang sekali bala bantuan itu gagal, karena kedudukan Portugis sudah terlalu kuat. Sekalipun demikian, pengharapan akan bantuan dari saudara-saudaranya di Jawa tetaplah tinggal dalam jiwa anak Melayu, sehingga timbul dari bibir mereka satu pantun: Jika jatuh Kota Melaka,
mari di Jawa kita dirikan, jika sungguh bagai dikata, badan dan nyawa saya serahkan. Pantun ini telah beratus tahun menjadi dendang anak Melayu sampai sekarang.

Sebaliknya, orang-orang Melayu yang terpaksa meninggalkan negerinya yang diduduki Portugis mengembara sampai ke Kalimantan dan Sulawesi sambil menyebarkan Islam. Mereka dihormati sebagai saudara sesama Muslim.

Demikian juga setelah Kerajaan Goa dan Tallo di Sulawesi Selatan menerima Islam pada awal abad ke-17, ulama-ulama Minangkabau dan Jawa Timur diterima dengan tangan terbuka.

Ketika pengaruh Belanda masuk di Kerajaan Mataram, memberontaklah Trunojoyo, pahlawan dari Madura, terhadap Sunan Amangkurat I. Karaeng Galesong dari Makassar menggabungkan diri dengan Trunojoyo untuk melawan Belanda. Tidak dikaji lagi apakah dia orang Madura atau Makassar, karena mereka telah diikat oleh akidah yang sama. Meskipun bahasa Madura lain dengan bahasa Makassar, mereka bertemu dalam bahasa Melayu yang telah berkembang pada saat itu sebagai bahasa persatuan di Nusantara.

Syekh Yusuf Tajul-Khalwati ulama Makassar mengembara ke Banten, diangkat oleh Sultan Ageng Tirtayasa menjadi mufti kesultanan, dan bersama-sama berjuang melawan Belanda. Si Untung diberi gelar Surapati oleh Sultan Cirebon dan diberi gelar Wironegoro oleh Sultan Mataram. Dia asalnya budak dari Bali, tetapi karena dia telah Islam dan berjuang melawan Belanda, dia diterima menjadi bangsawan Jawa.

Tatkala usai Perang Diponegoro di Jawa, Belanda mengirim Sentot Ali Basyah ke Minangkabau untuk memerangi kaum Paderi yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Sesampainya di Minangkabau Sentot segera berbalik arah dan bersekutu dengan kaum Paderi, demi dilihatnya yang dihadapinya adalah saudara-saudaranya seagama.

Lalu tokoh-tokoh GAM sekarang yang mungkin belum sepenuh hati bergabung ke pangkuan Republik Indonesia, hendaklah ingat bahwa beberapa sultan Aceh ada yang berdarah Melayu atau Bugis, bahkan ada juga yang keturunan Arab.

Semua yang kita uraikan ini bukanlah dongeng yang dibuat-buat, tetapi fakta-fakta sejarah yang benar-benar terjadi. Karena, Islam memang tidak membedakan apakah seseorang itu sultan dari Aceh ataukah budak dari Bali ataukah penjelajah lautan dari Bugis. Yang dihitung bukan darah dan keturunannya, tetapi bakti, takwa, dan tujuan hidupnya.
Inna akramakum 'inda l-Laahi atqaakum. "Sesungguhnya yang paling mulia di antaramu di
sisi Allah adalah yang paling takwa."

Meskipun setiap suku bangsa mempunyai bahasa dan aksara sendiri-sendiri, mereka memakai bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Sebagai aksara persatuan, mereka mengambil huruf Arab. Karena, huruf Arab tidak memiliki fonem nga, nya, ca, dan ga, maka 'ain diberi tiga titik menjadi nga; nun diberi tiga titik menjadi nya; jim diberi tiga titik menjadi ca; dan kaf diberi satu titik menjadi ga.

Dengan demikian, seluruh suku bangsa dari Aceh sampai Papua berkomunikasi dengan bahasa dan aksara yang sama. Cuma sayangnya, huruf yang pernah menjadi huruf persatuan Nusantara itu sekarang tidak terpelihara lagi. Di Malaysia huruf itu disebut huruf Jawi, tetapi di Jawa disebut huruf Melayu. Rupanya orang Melayu lempar ke Jawa, orang Jawa lempar ke Melayu, akhirnya tenggelam di Selat Malaka!

Selain menanamkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, ajaran Islam juga telah menanamkan modal yang paling besar dalam menentang imperialisme dan kolonialisme. Kekuatan jiwa untuk melawan penjajah, meskipun kekuatan senjata kadang-kadang tidak seimbang, disemangati oleh ajaran iman dan tauhid. Hampir semua pahlawan-pahlawan besar dalam sejarah perjuangan bangsa kita dibangkitkan oleh Islam. Jika kita susun
nama-nama pahlawan, baik kalangan bangsawan maupun rakyat jelata, niscaya Islamlah dasar perjuangan sebagian besar mereka.

Sultan Agung Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa Banten, Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Aceh, Sultan Hasanuddin Makassar, Sultan Mahmud Badaruddin Palembang, Sultan Khairun dan Babullah Ternate, dan lain-lain. Tidak ada semangat lain yang mendorong mereka berjuang melawan penjajah melainkan jihad fi sabilillah (berjuang di jalan
Allah).
Kemudian deretkanlah nama-nama yang kita agung-agungkan: Pangeran Abdulhamid Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Raden Intan, Teuku Umar Johan Pahlawan, Teuku Cik di Tiro, Kyai Mojo, Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, Kyai Tapa, Ratu Bagus Buang, Panglima Polim, srikandi-srikandi Cut Nyak Din dan Cut Meutia, dan lain-lain.
Masih banyak lagi para syuhada' yang kekurangan tempat kalau disebutkan semuanya. Ternyata cahaya imanlah yang memancar dari lubuk sanubari mereka sehingga rela tampil melawan penjajah.

Bagaimanakah dengan pahlawan Pattimura dari Maluku yang beragama Kristen? Kalau orang membicarakan Pattimura, orang tidak dapat menghapus nama Sayid Parintah, ulasma Islam dari Saparua yang merupakan guru dari Pattimura. Dialah yang mengobarkan semangat Pattimura melawan penjajah, sehingga kedua-duanya sama-sama naik tiang gantungan.

Tahun 2007 sekarang kita mengenang gugurnya pahlawan dari Tanah Batak, Si Singamangaraja XII. Beliau seorang Muslim, dikhitan dengan upacara adat di istana Bakkara, cap kerajaannya yang masih tersimpan bertuliskan huruf Batak dan huruf Arab yang bertarikh 1304 Hijriyah. Pada pertengahan abad ke-19, Belanda membuka pintu selebar-lebarnya bagi zending dan missi untuk berusaha mengkristenkan Tanah Batak, supaya terpecah dua kekuatan Islam di Sumatra, yaitu Aceh dan Minangkabau.

Tahun 1865 pendeta Nommensen berhasil membaptis Raja Pontas Lumbantobing di Silindung. Maka tahun 1872 Raja Si Singamangaraja XII melancarkan jihad terhadap Belanda dan sekutu-sekutu lokalnya, sampai dia syahid tahun 1907, tepat 100 tahun yang silam.

Kalau kita tinjau kebangkitan nasional awal abad ke-20, sebenarnya tidaklah tepat kalau dikatakan dimulai dari organisasi Budi Utomo, yang bersifat lokal kejawaan dan dianggap "anak manis" oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemimpin nasional yang pertama-tama disambut oleh masyarakat di seluruh tanah air bukanlah Dr.Wahidin Sudirohusodo, melainkan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin Syarikat Islam.

Organisasi Syarikat Islam inilah, dengan semboyan "kerso, kuwoso, mardiko", yang pantas disebut pelopor kebangkitan nasional, sebab dalam kongresnya di Bandung tahun 1916 telah menyuarakan "kemerdekaan Hindia" dan para aktivisnya berasal dari berbagai suku, seperti Haji Agus Salim dari Minangkabau, Aruji Kartawinata dari Sunda, dan Abdul Muttalib Sangaji dari Maluku.

Lalu pada masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan kita yang masih muda, ajaran Islamlah yang mengobarkan jiwa seorang aktivis Pemuda Muhammadiyah memimpin angkatan perang Republik Indonesia melakukan perang gerilya. Itulah Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman yang tidak mengenal menyerah, sekalipun Presiden Soekarno sendiri sudah mengangkat bendera putih kepada Belanda. Kemudian kalimah takbir Allahu Akbar yang dikumandangkan oleh Bung Tomo melalui siaran radionya, itulah yang
menggerakkan rakyat berbondong-bondong datang ke Surabaya untuk bertempur melawan Inggris dan NICA 10 November 1945, yang setiap tahun kita peringati sebagai Hari Pahlawan.

Pada era Orde Baru, kita pernah merasakan adanya usaha-usaha yang mencoba untuk mengesampingkan peranan Islam dalam negara ini, agar orang Islam lupa akan sejarahnya sendiri. Kalaulah ada yang berusaha menonjol-nonjolkan Islam, maka datanglah tuduhan: ekstrim kanan! Supaya umat Islam tidak perlu lagi menyebut-nyebut Demak dan Walisongo. Yang perlu diingat ialah Mahapatih Gajah Mada. Lalu dihidupkan kembali suasana jahiliyah, mistik, primbon, wangsit, dan dikatakan inilah kepribadian asli Indonesia.

Dalam era reformasi sekarang, sekali-sekali masih terdengar juga wacana aneh yang mencoba mempertentangkan Islam dengan paham kebangsaan. Masih ada saja suara usil yang mengatakan bahwa pelaksanaan syariat Islam bertentangan dengan Pancasila dan dapat mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal, ajaran Islamlah yang paling besar sahamnya dalam mewujudkan kesatuan bangsa ini sejak berabad-abad sebelum "Sumpah Pemuda".

Janganlah lupa bahwa istilah "Ketuhanan Yang Maha Esa" yang merupakan sila pertama dalam Pancasila kita merupakan usulan Ketua Umum Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo, ketika rumusan Pancasila difinalkan pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi. Sudah tentu, Ki Bagus Hadikusumo bukan mendapatkannya dari yang lain-lain, tetapi dari akidah Islam La ilaha illa llah (Tiada Tuhan melainkan Allah) dan Qul huwa llahu ahad (Katakanlah: Dia Allah Yang Maha Esa).

Sadar atau tidak sadar, dalam menyusun perlengkapan negara ini kita banyak mengambil dari perbendaharaan istilah Islam, seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Masyarakat Adil Makmur, dan sebagainya. Mana kata yang bukan bahasa Alquran? Cuma imbuhannya saja yang asli dari nenek-moyang. Kelihatannya ini hal yang sepele. Tetapi, mengapa kita memakai istilah-istilah ini?
Karena itulah, yang sesuai dengan selera bangsa Indonesia. Kapankah selera itu tertanam? Masya Allah, bukan kemarin, bukan sejak 17 Agustus 1945 atau 28 Oktober 1928, tetapi sudah beratus-ratus tahun jiwa Islam itu sudah tertanam dalam tubuh sebagian besar bangsa kita.

Marilah kita resapkan dalam-dalam bunyi alinea ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945: "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Read More...

Thursday, August 16, 2007

TRAINING GRATIS: Pelatihan Terbuka Kesiapsiagaan Gempa dan Trauma Healing (Jakarta)

Informasi ini kami peroleh dari sebuah posting di mailing list, yang mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.

Bagi Anda yang berkantor di gedung tinggi; tahukah Anda apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa? Dimana harus berlindung? Apakah harus berlari atau tetap diam di tempat? Menggunakan lift atau tangga biasa?


Bagi ibu rumah tangga; apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa? Keluar rumah atau tetap bertahan di dalam? Bagaimana cara berlindung yang baik ketika harus tetap bertahan di dalam rumah? Pernahkah mengajarkan anak-anak Anda bagaimana menghadapi gempa?

Bagi yang sering berkendaraan; bagaimana jika tiba-tiba terjadi gempa saat Anda tengah mengendarai mobil? Apa yang harus dilakukan? Dimana harus berlindung?
Anak-anak di sekolah; pernahkah diajarkan di sekolah bagaimana menghadapi gempa?

Buat seluruh orang yang merasa penting untuk tahu bagaimana menghadapi gempa; pernahkan menganalisa kekuatan bangunan di rumah, kantor, sekolah atau dimana pun Anda sering beraktifitas? Adakah tempat berlindung seperti meja atau lainnya di rumah, kantor dan lain sebagainya? Sudahkah memperhatikan barang-barang di rumah yang berpotensi menimbulkan luka saat terjadi gempa, seperti lemari, lampu gantung, alat elektronik dan lain-lain.

Buat kesiapsiagaan; apakah tersedia flashlight (lampu senter) dan disaster kit lainnya di rumah Anda? Pernahkah Anda dan seluruh anggota keluarga membuat kesepakatan arah evakuasi di rumah Anda sendiri? Atau arah evakuasi di kantor, rumah sakit, gedung bertingkat, dan tempat-tempat lainnya?

Dan yang terpenting; tahukah Anda bahwa hampir seluruh wilayah di Indonesia ini berada pada ring of fire, sehingga memungkinkan terjadi bencana terus menerus dengan waktu yang hampir tidak bisa dipastikan –dalam kasus gempa misalnya, tidak bisa diprediksi kejadiannya.

Tidak perlu takut dan panik, jika kita sering berlatih menghadapi gempa. Ini kunci utamanya.

Karena itu, jangan lewatkan “PELATIHAN TERBUKA KESIAPSIAGAAN GEMPA dan TRAUMA HEALING”

Minggu, 19 Agustus 2007
Pukul 08.00 s/d 10.30 WIB
Plaza Utara Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (dekat parkir utara)

Pelatihan terbuka ini diselenggarakan atas kerjasama ACT (Aksi Cepat Tanggap), DMII (Disaster Management Institute of Indonesia), MRI (Masyarakat Relawan Indonesia), CCDI (Corporate Circle for Disaster Interest) dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).
Bayu Gawtama
OC Leader
0852 190 68581

ACT --> 021-7414482 atau Bayu Gawtama (085219068581)
DMII --> Anna (081328598828)
MRI --> Arifudin Muchtar (08172334154)
CCDI --> Hanny H Soemarno (0811234332)
MPBI --> Lya (021-3147321)
LIPI --> Irina (0813 1033 2282)

www.aksicepattanggap.com

Read More...

Tuesday, August 14, 2007

Ribuan Umat Islam Di Nias Hadiri Zikir Dan Doa

G. Sitoli, WASPADA Online. Selasa, 14 Agustus 2007 03:00 WIB\

Ribuan umat Islam dari berbagai pelosok di Kab. Nias menghadiri dzikir dan doa yang diprakarsai Majelis Dzikir SBY Nurussalam, Kab. Nias, di Masjid Jami' Ilir, Kec. Gunungsitoli, Minggu (12/8).

(Waspada/Bothaniman Jaya Telaumbanua)KHUSUK: Ketua Majelis Dzikir SBY Nurussalam Nias, Abdul Majid, SE bersama Ketua Majelis Dzikir SBY Nurussalam Sumut, Drs. H. Marahalim Harahap, M. Hum terlihat sedang khusuk melaksanakan dzikir dan doa yang dilaksanakan di Masjid Jami' Ilir Gunungsitoli, Minggu (12/8).


Acara ini dilaksanakan memperingati Isra' Mikraj 1428 H dan menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-62. Ketua Majelis Dzikir SBY Nurussalam Prov. Sumut, Drs. H. Marahalim Harahap, M. Hum yang turut hadir bersama KH. Ahyar Nasution, Lc.MA pada Tausi'ahnya mengimbau umat Islam khususnya di Kab. Nias, untuk membudayakan dzikir dan doa karena dzikir dan doa dapat menenangkan hati, memudahkan rezeki, dapat menghindarkan keluarga, daerah Nias dan negara dari bala dan bencana.

Marahalim mengharapkan pemerintah daerah dapat memberi bantuan pembangunan kepada umat muslim Nias, baik pembangunan moril maupun material. Kepala Kejaksaan Negeri Gunungsitoli, Dade Ruskandar, SH.MH selaku unsur Muspida Kab. Nias, sangat menyambut baik kegiatan zikir dan doa ini.

Ketua Majelis Dzikir SBY Nurussalam Kab. Nias, Abdul Majid, SE, sebagai pemrakarsa mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan kegiatan Majlis Dzikir SBY Nurussalam Kab. Nias kedua yang diselenggarakan secara akbar.

Al Ustadz KH. Ahyar Nasution, Lc, MA sebagai penceramah, selain menguraikan tentang hikmah peristiwa Isra' dan Mikrajnya Nabi Muhammad SAW juga menyampaikan dan menguraikan kepada kaum muslim tentang pentingnya menegakkan shalat dan melakukan rukun-rukun shalat dengan baik dan benar. Karena shalat merupakan sarana berkomunikasi langsung dengan Allah SWT.(a35)
(wns)

Read More...

Tuesday, August 07, 2007

Berita Duka

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un.
Telah berpulang ke Rahmatullah Mardiana Zega Binti Masrudin Zega, Istri dari H. Ali Yusri Ibrahim (Sekretaris Yayasan Peduli Muslim Nias) pada 5 Agustus 2007 pada pukul 21:00 WIB.


Sebelumnya almarhumah sempat di rawat kurang lebih selama sebulan di RSCM karena gangguan jantung yang dipicu oleh diabetes yang diderita selama ini. Almarhumah meninggalkan suami serta tiga orang anak perempuan serta dua orang cucu.

Ucapan belasungkawa datang dari berbagai pihak antara lain dari H. Rusdi Zein (Mantan Anggota DPR RI), KH. Zainudin MS (Pimpinan PonPes Al Hamidiah Depok), para pengurus YPMN dan masyarakat muslim Nias se-Jabotabek.

Keluarga H. Ali Yusri tampak sangat tabah dan ikhlas melepas kepergian alamarhumah dan berterimakasih atas ungkapan belasungkawa dan simpati yang diberikan oleh semua pihak.

Almarhumah dimakamkan di TPU Munjul Jakarta Timur pada 6 Agustus 2007 setelah sebelumnya dishalatkan di Masjid Al Fajar Munjul ba'da Zuhur.

Read More...

Tuesday, July 24, 2007

Banjir Melanda Nias, 470 Jiwa Warga di Lahewa Butuh Bantuan

Gunungsitoli (Analisa)

Akibat hujan yang terus melanda pulau Nias sepekan terakhir. Satu kelurahan dan tiga desa di wilayah Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias, Minggu (22/7) dilanda banjir, akibat hujan terus menerus dalam sepekan ini.


Kawasan yang dilanda banjir setinggi 1 hingga 1,5 meter itu, Kelurahan Pasar Lahewa, Desa Ombolota, Desa Hiligawolo dan Desa Marafala. Akibat banjir itu, sedikitnya 470 jiwa dari 160 KK di empat lokasi mengungsi dan membutuhkan bantuan.

Ketua Harian Satuan Pelaksana (Satlak) Penanganan Bencana dan Pengungsi (PBP) Kabupaten Nias melalui Sekretaris pelaksana Harian Satlak PBP AA Gulo SH didampingi Wakil Sekretaris Satlak PBP Kurnia Zebua, SE kepada Analisa di kantornya, Senin (23/7) mengatakan, sesuai hasil laporan camat setempat kepada Satlak PBP, dari data dihimpun, banjir dipredikasi karena tingginya curah hujan yang melanda Kabupaten Nias akhir-akhir ini.

Selanjutnya, banjir yang melanda wilayah Kecamatan Lahewa, terjadi pukul 05.30 WIB dan air baru surut pukul pukul 15.30 WIB, hingga pada saat terjadi banjir para warga mengungsi ke tempat-tempat lebih tinggi. Warga Kelurahan Pasar Lahewa dan Desa Hiligowolo setelah air surut baru dapat kembali ke rumahnya masing-masing.

Sementara di Desa Marafa dan Desa Ambolata masih direndam air setinggi 30 cm dan seorang warga mengalami sakit akibat kedinginan.

Dari peristiwa itu, belum ditemukan ada korban jiwa, namun rumah dan kios warga terendam air serta kerusakan barang-barang warga seperti beras, ternak, stok obat-obat, mobil ambulan serta barang lainnya ikut rusak akibat terendam air yang tidak sempat diselamatkan.

KERUGIAN

Kerugian material dari peristiwa itu, masih belum dapat diprediksi. Serta keadaan cuaca masih gerimis dan berpotensi hujan. Warga masih membutuhkan bantuan secepatnya, ungkap Gulo.

Dari peristiwa itu, kata Gulo, pemerintah daerah melalui Satlak PBP mengistruksikan camat setempat untuk menangani segera dan pemeritah daerah, Senin (23/7) merencanakan memberikan bantuan kepada para warga berupa beras sebanyak 0,4 kg perjiwa selama 10 hari dan bantuan lauk pauk Rp 3.000 per jiwa selama 10 hari serta bantuan obat-obat.

Namun hingga saat ini, bantuan itu belum dapat disalurkan kepada para warga, disebabkan kendala traspotasi jalan dan jembatan serta hujan yang hingga saat ini terus mengguyur pulau Nias.

Salah satu jembatan Muzoi di Kecamatan Lahewa Timur satu-satunya utama menuju Kecamatan Lahewa yang rusak parah akibat bencana gempa pada Maret 2005 lalu.

Selain itu, air sungai yang masih meluap sekitar jembatan akibat hujan yang terus menguyur, hingga saat ini pihak pemerintah daerah mengalami kesulitan mendistribusikan bantuan itu.

Sekretaris Pelaksana Harian Satlak PBP, AA Gulo SH, mengimbau kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Nias untuk tetap berhati-hati dan sementara mencari lokasi-lokasi yang lebih aman, disebabkan cuaca alam yang saat ini masih rawan akan bencana serta cuaca yang berubah-ubah.

Seperti warga yang berada di sekitar wilayah pantai, sungai dan bukit, untuk menghindari korban jika sewaktu-waktu terjadi. (kap)

Read More...